Puyuh dan Kefir

Seberapa Untungkah Menjadi Agen atau Penjual Telur Puyuh?

“Gila bener deh, itu untungnya penjual telur puyuh.  Bayangkan deh, saya hanya jual 20 ribu per kilo (atau 200-220 rp/butir) sedangkan, saya lihat di supermarket harga jualnya bisa sampai 30-35 ribu per kg.  Juga, itu lho, di pasar saja ecerannya harganya bisa 24 sampai 28 ribu per kilo gramnya.”“Sedangkan, sebagai peternak, setelah hitung kiri-kanan, potong biaya pakan, penyusutan kandang, belum resiko unggas mati, perhatian, dan lain sebagainya, hanya untung seribu atau lebih kadang malah rugi.”.

Duh jauh benar ya, belum lagi kalau harga lagi turun, agen tidak lagi mau beli atau menawar dengan harga terendah, sehingga peternak yang sudah capek-capek, malah hanya gigit jari, sedang penjual telur dengan mudah beralih.

Biaya Saluran Distribusi dan Keuntungan.

Pengalaman sebagai peternak, kemudian secara bertahap beralih menjadi pedagang telur, tidak sepenuhnya menyangkal pandangan ini.  Memang, antara hasil produksi dan harga jual, terdapat selisih yang cukup besar.  Berdasarkan pengalaman dan pengetahuan sederhana, kira-kira tahapannya sbb:

Peternak –> Pengepul Kecil -> Bandar ->Agen/Distributor –>Pasar (Lapak/Super Market) –>Konsumen (pengguna).

Jadi ada 4 tahapan distribusi untuk sebutir telur sampai ke tangan konsumen.  Ini bagian terbesar dari saluran distribusi.  Tentu saja ada yang berhasil memotong jalur distribusi sehingga keuntungan peternak bisa jauh lebih tinggi.  Peternak menjual sendiri ke konsumen, maka ada 4 langkah saluran yang dipotong.  Peternak langsung menjual ke Pasar (modern/tradisional), maka pengusaha akan menghilangkan 3 saluran distribusinya, dan dengan kata lain, meningkatkan laba usahanya.

Setiap bagian dari tahapan distribusi ini, tentu saja merupakan jejaring bisnis yang memiliki lika-liku sendiri.  Kalau selisih antara harga kandang (peternak) sampai ke konsumen, katakanlah 8 rb rupiah.  Komposisinya kurang lebih begini (hitungan per 10 kg) :

  1. Harga di tingkat peternak : Rp 20 rb atau per 10 kg Rp 200 rb.
  2. Harga di tingkat Pengepul pertama : Rp 200 rb + tray 13 lbr x Rp 500 (Rp 6500) + biaya pengepakan + biaya operasional pengepul + keuntungan pengepul= Rp 200 rb + 6500 + 1000+3000) = Rp 212.500 (atau 21,25 rb/kg).
  3. Pengepul kecil masuk ke Bandar yang lebih besar, asumsikan ambil profit 300 rp atau 3000 per kg sehingga harga menjadi 212.500 + 3000 rp = Rp 215.500,-
  4. Kirim telur puyuh ke luar kota (ambil contoh dari Jatim ke Jabar) harganya berkisar antara 7500 – 9000 per 10 kg.  Ambil moderat, Rp 800 per kg atau 8000 per ikat (10 kg), sehingga harga menjadi 215.500 + 8000,- = Rp 220.500,- atau menjadi Rp 22,050
  5. Sampai di Agen/distrributor luar kota, ambil untung asumsikan Rp 450,- per kg sehingga harga menjadi 22,500,- per kg.  Jadi pedagang/lapak di pasar menerima barang seharga ini untuk dijual ke konsumen.
  6. Pedagang pasar menjual pada harga Rp 24 rb-Rp 25 rb/Kg.  Keuntungan pedagan pasar tentu relatif lebih tinggi karena ada unsur biaya operasional yang menjadi beban usahanya, termasuk adanya resiko pecah, rusak, yang kadang tidak mau diterima atau diganti oleh agennya.

Tentu harga berbeda, kalau sudah masuk supermarket, harga bisa jauh melejit tinggi.  Tapi, tentu saja skala supermarket selain volumenya kecil, biaya pengepakan, tenggang pembayaran, dan lain-lain juga cukup tinggi.  Ini tidak saya uraikan, karena saya tidak menjual telur puyuh ke pasar modern, sehingga lika-likunya kurang saya pahami.

Penyusutan, telur rusak dan timbangan.

Pengalaman sebagai agen, hal yang paling berat dihadapi adalah kalau telur puyuh yang saya terima kerabangnya tipis, mudah pecah, dan sudah timbul bau serta ada belatung yang hidup di dalam tumpukan tray.  Kalau sudah begini, kerugianlah yang membayang.  Siapa konsumen yang mau membeli barang yang busuk.

Begitu juga masalah timbangan. Pengalaman, kalau salah memilih bandar dan komunikasi kurang matang, tidak jarang masalah timbangan menjadi bumerang.  Berat satu ikat (10 kg), yang kemudian terjadi beratnya hanya 9,8 atau 9,9 kg saja.  Dengan begitu, agen, sebelum mengirimkan ke penyalur pasar harus menambah 1 sampai 2 ons (Rp 2000,- sampai Rp 4000) dari tiap 1 ikat telur puyuh yang diterimanya.  Padahal, keuntungan kotor yang bisa diraih kalau tepat 10 kg diterima tidak lebih dari Rp 4500 saja).  Memang, bisa saja kita agen mengatakan, silahkan beli apa adanya.  Pokoknya satu ikat saja.  Sebagian penyalur memang demikian, tapi sebagian lain tidak bisa melakukan cara-cara yang demikian/  Ada yang karena alasan relijius, kejujuran, dan komitmen penjualan yang terjadi.  Karena petimbangan tertentu itu, maka menjadi kewajiban agen untuk tepat 10 kg dan kalau di dalam tray ada telur pecah harus diganti.  Pengalaman aman selama ini, kalau saya berhasil menjual 100 ikat (1 tom) dengan potensi keuntungan Rp 450 rb, mengganti rata-rata mengganti telur yang kerabang tipis, pecah karena gesekan, pecah karena tali pengikat merusak telur, telur yang tidak berkualitas (warna putih, tipis, retak, warna gelap coklat dan kotor) sekitar 3 – 5 kg atau potensial loss sekitar 70 -100 rb sehingga keuntungan kotor menjadi Rp 350 rb.  Kemudian biaya operasional pengiriman rata-rata habis Rp 150-200 rb (supir, bensin, biaya kendaraan).  al hasil keuntungan ril sekitar Rp 150 – 200 rb untuk 1 ton telur puyuh atau sekitar 150-200 rp per kg.  Kalau dibandingkan dengan modal dengan keuntungan bersih, hanya 0,67%.  Karena kecilnya, maka kecepatan putaran penjualan menjadi penting sekali.  Kalau bisa, umur penjualan setiap satu ton tidak lebih dari dua hari.  Ambil moderatnya, sebulan 10 kali putaran penjualan.  Maka keuntungan per bulan menjadi 6,7%.  Yah, masih lebih tinggi sih dari bunga bank, tapi juga bukan bisnis yang juga terlalu menjanjikan.

Bagaimana meningkatkan profit.

Jika hanya mengandalkan kondisi seperti di atas, tentu terlalu tinggi resikonya.  Perlu usaha tambahan untuk mengurangi resiko.  Berikut ini beberapa catatan pengalaman mengurangi resiko rendahnya keuntungan yang bisa diraih.

  1. Berkomunikasi aktif dengan bandar atau pengepul untuk memberikan barang yang berkualitas untuk dikirimkan kepada agen.  Ajak peternak untuk memahami, bahwa penjualan bukan hanya sekedar mengeluarkan telur dari kandang, tetapi juga menyangkut kepuasan saluran distribusi dan konsumen yang akan membeli produknya.
  2. Hindari/membuat perjanjian dengan bandar agar tidak mengirimkan barang yang pecah atau busuk yang akan menghancurkan potensi bisnis penjualan telur puyuhnya.  Jadi, telur dikirim harus dalam keadaan segar setelah satu atau dua hari dalam perjalanan.  Semakin jauh perjalanan, seleksi harus semakin ketat dan membuang telur yang akan merusakkan telur yang rusak, pecah, retak karena kerabang tipis, dan lain-lain.
  3. Gunakan tray bekas yang mungkin lebih murah, sehingga biaya satu tray baru seharga Rp 500 – Rp 700 per lembar bisa dipakai berkali-kali, sehingga harga tray rata-rata bisa ditekan (kalau dipakai 3 kali saja, maka biaya tray bisa ditekan menjadi rata-rata 400,- (beban tinggi adalah biaya pengembalian tray)
  4. Gunakan kendaraan pengangkut yang hemat biaya operasional (motor, becak motor) atau sejenisnya.
  5. Naikkan harga jual.  Faktanya, ini menyangkut persaingan dan permintaan, ketersediaan produk, dan hubungan dengan pelanggan.  Mudah untuk diomongkan, tapi tidak selalu mudah dalam pelaksanaan.
  6. Variasikan penjualan antara pembeli di jongko pasar yang membeli cukup banyak atau yang hanya satu ikat saja (berbeda harga), syukur kalau ada waktu untuk menjual ke konsumen akhir.  Setelah lapak pasar, masih ada kemungkinan masuk ke konsumen akhir (pemakai), tapi bisa juga ke pedagang lagi (misal pedangan rebusan telur puyuh, catering, pedagang kue/maskaan, dll).  Ini bisa meningkatkan laba, tapi tentu saja juga menambah biaya operasional usaha.

Untung besarkah?

Pengalaman selama ini, saya menjual rata-rata 3-4 ton per minggu telur puyuh.  Makin besar volume penjualan, makin tipis keuntungannya (karena harus memanfaatkan saluran distribusi hilir).  Dengan volume seperti ini, roda usaha sebagai agen telur puyuh bisa berjalan. Namun, tanpa dukungan bandar yang menyuplay produk dengan komitmen tinggi untuk mengirimkan produk dengan kualitas standar maka roda usaha bisa berhenti.  Apalagi kedatangan telur puyuh yang kemudian dikomplain pelanggan karena bau, maka bukan keuntungan yang akan didapat, tapi badai protes pelanggan yang kadang mudah diatasi kalau cepat diganti dengan barang yang bagus, tetapi juga bisa membuat kehilangan pelanggan.

Fluktuasi Harga.

Fluktuasi harga kerap bisa menambah laba.  Membeli dengan harga yang lebih murah, dan menjual dengan harga yang lebih tinggi.  Ini enak juga, keuntungan bisa naik 20-30% dari kondisi normal.  Namun, sebaliknya juga bisa terjadi.  Ketika membeli harga 22 ribu, tetapi ketika menjual harus sama atau di bawahnya.  Kalau sudah begitu, ya mengurut dada……….

This entry was published on May 23, 2014 at 5:03 pm and is filed under Uncategorized. Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

4 thoughts on “Seberapa Untungkah Menjadi Agen atau Penjual Telur Puyuh?

  1. emang enak dan byk jg untungnya,, tp kendala@ adalah kelancaran penjualan,,, terkadang tak bs contunue

  2. Pingback: Tahun 2014, Telur Puyuh Bergaya, Nyaris Sepanjang Tahun. | Puyuh dan Kefir

  3. kalo msih btuh telur dlam jumlah bsar bsa hub kami mas di 085350550214. Trima kasih.

  4. A. Natsir on said:

    kalau ada yang butuh telur puyuh daerah pinrang dan sekitarnya bisa menghubungi kami di 085299503425 atau 085340948425 .. atau berkunjung langsung ke tempat kami di BTN Mattiro Bulu Mas Blok P / 29 Pinrang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: