Puyuh dan Kefir

Kemana Memasarkan Telur Puyuh?

Pertanyaan kemana memasarkan telur puyuh umumnya muncul ketika akan memulai beternak puyuh.   Ada pengepul, yang mengumpulkan dari peternak, ada pasar tradisional, pedagang telur yang juga menerima telur puyuh, ada restoran yang bisa jadi membutuhkan telur puyuh untuk sup atau untuk masakan lainnya.  Dari pada pusing memikirkan kemana memasarkan telur puyuh, sedang ternaknya saja belum ada, yah fokus saja.  Beternak saja dulu deh, soal pemasaran belakangan.  Pokoknya, yang diyakini cuma satu : kebutuhan telur puyuh pasti ada.  Toh, yang diternakan pun tidak akan banyak.  Paling  hanya beberapa ribu saja.  Inginnya sih puluhan ribu. Namun, berbagai hal, terutama kapasitas dan modal membatasi.

Yang membesarkan hati, ketika ditanyakan ke salah satu pasar pedagang telur, berapa bisa terima telur puyuh per harinya.  Jawaban membesarkan hati sekaligus mengejutkan :”Mau kirim 50 Kg per hari juga saya terima !.”

“Ho…ho…ho… Begitu ya !”, ” Kalau begitu, bersiaplah untuk segera beternak puyuh”.  Itulah permulaan yang mengawali semangat saya beternak puyuh.

Tahun berlalu, sampai sekarang saya jarang menjual ke pasar yang pertama kali ditanya.  Mengapa?.  Ya, karena kebetulan di sekitar ternak ada beberapa pedagang warungan yang menjual telur puyuh, ada sejumlah peternak burung kenari yang telah “mewajibkan” burung kenari kesayangannya makan telur puyuh.  Ada beberapa pedagang sayur yang secara rutin membeli beberapa kilogram telur puyuh untuk pedagang yang berjualan di sekitar beberapa sekolah dasar.  Anak-anak sekolah dasar itu merupakan penggemar sate telur puyuh.  Kalau pedagang untuk sate puyuh, kadang melayaninya repot juga karena yang dibutuhkannya adalah telur puyuh yang ukurannya relatif kecil.  Kalau bisa, yang sekilonya berjumlah 110 butir.  Bahkan kalau bisa lebih !.  Sedangkan, sebagai peternak, tentunya lebih suka kalau telur puyuhnya berukuran besar.  Kalau bisa sekilonya 90 butir saja.

Ada juga pedagang masakan gudeg yang secara rutin minta dikirim beberapa kilogram telur puyuh untuk campuran masakannya.

Begitu juga, kalau ada tetangga mengadakan syukuran, khitanan, atau ada undangan besar lainnya, telur puyuh menjadi salah satu pilihan konsumsi yang relatif digemari.

Kebijakan harga.

Yang saya gunakan adalah harga di pasar.  Kalau harga pasar naik, ya ikut naik. Kalau turun, ya ikut turun.  Waktu mengawali, sengaja saya buat sedikit lebih murah dari harga pasar.  Biar konsumen akhir mau datang untuk membeli.  Dari merekalah, pembeli berikutnya berdatangan.  Sedikit demi sedikit untuk dikenali oleh lingkungan terdekat.  Isitilah kerennya word of mouth.  Dari mulut ke mulut.

Begitu cap murah mulai melekat, maka biaya untuk pemasaran sudah dipenuhi oleh selisih perbedaan dengan harga pasar.   Setelah rutin, fluktuasi harga yang terjadi biasanya tidak diperdulikan.

Sebagai peternak kecil, saya belum memikirkan untuk menjual melalui saluran distribusi modern, misal ke supermarket atau  ke mini market.  Toh dengan kapasitas sekarang saja, saya masih menolak inden (titipan) dari pedagang atau konsumen akhir  yang datang di pagi, sore, atau bahkan malam hari untuk membeli.

Tentu saja, sekali-kali saya juga mengirimkan atau diambil oleh pengepul yang mengkhususkan diri di bidangnya.  Namun, 80% produksi telur sudah habis oleh lingkungan sekitar.   Kadang terpikir juga, bagaimana kalau saya juga jadi pengepul saja deh.  Membeli dari peternak lain atau dari daerah lain.  Namun, ntar saja deh.  Masih tidak sedikit tantangan beternak puyuh yang harus diatasi……

This entry was published on July 4, 2013 at 11:07 am. It’s filed under Puyuh and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: