Puyuh dan Kefir

Ketika Keproduktifan Puyuh Bertelur Jatuh Bebas !

Saya biasa mencampur pakan atau lebih populernya mengoplos pakan.  Biasanya 50% pakan pabrik dan 50% lagi oplosan.  Saya juga selalu mencatat setiap hari jumlah telur dari puyuh-puyuh cantik di kandang.  Berapa banyak yang  pecah (retak, kerabang tipis, atau jatuh sewaktu diambil).  Pengoplosan pakan pabrik sudah menjadi keharusan.  Mengapa?.  Sederhana saja, harga pakan yang saya beli 270 ribu  per karung atau 5400 rupiah per kg.  Dengan pakan sehari 22 gram per hari   atau untuk seekor puyuh butuh 120 rupiah per hari. Dengan obat-obatan, sanitasi dan lain-lain, asumsikan kebutuhan menjadi Rp 140,- per hari atau setahun Rp  51.100  atau dibulatkan menjadi Rp 51 ribu.  Kalau asumsi harga telor Rp 21.000/Kg dengan jumlah 100 butir atau per butir rata-rata Rp 210,- (hitungan pada bulan Juni 2013), maka dengan asumsi bertelur rata-rata 75% maka setahun puyuh menghasilkan 75% x 365 (hari) x Rp 210,- =  Rp 57.450.  Keuntungan kotor dari seekor puyuh dalam setahun hanya 57.450 – 51.100 = Rp 6.350,-

Kalau memiliki 1000 puyuh, setahun kurang lebih 6 jutaan atau Rp 500 ribu per bulan.  Belum dihitung resiko kematian (sakit, kejepit, luka).  Asumsikan rata-rata 5% saja, maka keuntungan yang diharapkan akan membuat kita mengelus dada.

Campuran untuk Oplosan Pakan Puyuh.

Selama ini, oplosan yang dilakukan adalah :

50% pakan pabrik.
15% dedak (slip) atau katul halus harga per Juni 2013 Rp 2000,-/Kg.
15% jagung giling per Juni 2013 Rp 4100,-/Kg
10% tepung kepala pindang (digiling sendiri)
4% kulit telur giling.
Premix (perhitungan 4kg/ton pakan).
0,2 gram vitamin atau perangsang telur per Kg berat badan puyuh, dicampurkan pada pakan.
Dengan komposisi ini, maka harga campuran dapat ditekan menjadi rata-rata Rp 4500 – Rp 4700,-  Lumayan, menghemat Rp 1000 lebih per Kgnya.

Pertanyaan pentingya : Bagaimana produktifitas puyuh dalam bertelur?.  Jawabnya, fine-fine saja tuh.  Bahkan beberapa kali, beberapa kandang bisa bertelur 95-100%.  Ini bahkan lebih baik dari pada waktu penuh hanya pakan pabrik saja.

Kelemahan oplosan ini adalah stabilitas bertelur.  Maklum, dengan pakan oplosan, kualitas bahan belum tentu sama dari hari ke hari.  Namun, karena sudah terbiasa, beberapa tindakan dilakukan ketika mengalami :

Jika kerabang telur menjadi tipis atau banyak yang retak (dari 100 butir, lebih dari 3 atau 4 butir) atau ukurannya menjadi relatif kecil, maka grit dari kulit telur, ditambah segemggam (50-100 gram).  Biasanya hasilnya, langsung terlihat.  Ukuran telur relatif normal dan kerabangnya tidak tipis lagi.

Jika yang bertelur berkurang, maka didorong dengan tambahan hijauan (biasanya saya tambahkan kulit kacang hijau dan kecambah).  Untuk memperkuat, kadang ditambah dengan perangsang telur atau premix.  Hasilnya, biasanya jumlah telur naik lagi.  Hasilnya memang tidak terlalu muluk-muluk.  Yang penting bisa bertelur antara 75% – 90% saja sudah dianggap cukup.

Mengubah Komposisi dan Jumlah Harian Telur Jatuh Bebas

Untuk lebih menghemat, saya targetkan kurangi lagi pakan pabrik menjadi 30% atau kurang dan komposisi oplosan ditambah.  Entah mengapa, tiba-tiba jumlah bertelurnya jatuh bebas.  Jika per kandang yang berisi 24 betina dan 6 jantan, biasa bertelur antara 17- 24 telur, tiba-tiba jatuh ke hanya 6 atau 7 butir saja.  Bahkan ada yang bertelur dari 20 butir jatuh tinggal 2 butir saja.

Gejala-gejala Awal.

Selama dua minggu terakhir ini, memang terasa ada perubahan.  Kotoran puyuh yang biasanya relatif kering menjadi sedikit encer dan berair.  Tapi itu hanya terjadi pada beberapa kandang.  Jumlah telur harian baik-baik saja.  Kandang dari puyuh muda relatif kering, jadi tidak semua sedikit encer.  Pada saat yang sama, program oplosan pakan sudah mulai dijalankan beberapa hari.

Pada hari ketiga dari perubahan komposisi pakan, saya lihat kotoran sangat encer, nyaris luber ke luar kandang.  Jumlah telur sedikit turun, tetapi tidak ekstrim, hanya turun 1-4 butir saja dari setiap kandang.  Hanya, ada beberapa telur yang putih dan ukurannyapun secara umum relatif agak kecilan.  Tapi  masih batasbatas wajar.  Dari 60 kandang yang terisi, ada sekitar 12 telur polos.  Ada yang sedikit aneh.  Biasanya hanya ada satu atau dua telur saja yang keluar putih polos.  Saya sering berguyon, itu puyuh yang kelupaan ngecat telurnya, keburu tidur.  Tapi baru kali ini, jumlah telur putihnya begitu banyak.

Dari 60 kandang ini, ada yang usia bertelurnya sudah setengah tahun, ada yang baru sebulan bertelur, dan ada juga yang baru belajar bertelur.  Yang baru belajar bertelur (baru 2 – 6 butir per kandang) malah jatuh ke titik nol.  Artinya tidak bertelur sama sekali.  Begitu juga yang dikarantina (dipisahkan), biasanya masih ada satu dua yang bertelur.  Hari itu, tidak bertelur sama sekali.

Dan hari ke empat, jatuh bebas.  Yang bertelur hanya tinggal 25% saja.

Jelas ini membuat panik.

Selama ini, hal ini belum pernah terjadi.

Langkah-langkah Yang ditempuh.

Pertama, saya harus hilangkan dulu sumber penyakitnya yang menyebabkan kotoran menjadi berair dan cenderung encer.  Saya gunakan merk therapy.  Biasanya saya gunakan teramizyn.  Namun, kata poultry shop langganan, coba merek ini.  Katanya afdol.Pemberian, seperti biasa, saya campurkan ke pakan.  Kira-kira 0,2 gram per kilo gram berat badan puyuh.  Kalau jumlah puyuh 1000 ekor, maka beratnya diperkirakan 100 kg, jadi jumlah yang dicampurkan pada pakan sebanyak 20 gram.  Satu sachet berisi 50 gram.  Jadi nyaris setengahnya untuk setiap 1000 ekor puyuh.

Esoknya, kotoran puyuh sudah relatif kering lagi, tapi jumlah bertelurnya hanya terperbaiki sedikit, hanya naik sekitar 10% saja.  Jadi masih kehilangan hampir 65% harian bertelur.Namun, ini sudah cukup melegakan.  Komposisi pakan lebih mudah di otak-atik, tapi perubahan harus dilakukan pada saat kondisi puyuh juga sehat.

Ubah Komposisi Pakan.

Dengan mempertimbangkan jatuhnya jumlah telur, maka saya tambahkan grit yang bersumber dari kulit telur yang digiling (tambahkan 1 Kg saja per 100 kg pakan), tambah 2,5 Kg tepung ikan, tambah setengah liter minyak kelapa sisa, dan ditambah dengan gilingan daun ketela pohon (ketela pohon yang biasa dipakai untuk membuat tape).  Daun ketela yang digiling ditambahkan sebanyak 5Kg (5% dari jumlah pakan).  Sedangkan komposisi pakan pabrik yang 30% dari 100% pakan tetap.

Untuk memperkuat, tentu saja ditambahkan multivitamin (Vitastrong) dan tidak dilupakan ditambahkan premix (top mix).

Meningkat Kembali.

Alhamdulillah, pada hari ketiga, perubahan komposisi pakan, jumlah harian telur sudah mampu sedikit lebih baik dari rata-rata harian normal.  Lebihnya memang hanya sekitar 1-3 % saja, tapi masih ada dua kandang yang hasilnya sama dengan sebelum jatuh bebas, dan ada yang bertelur mencapai 96% dari jumlah puyuh dalam satu kandang. Kandang-kandang puyuh yang usia bertelurnya baru satu bulan juga masih dapat meningkat jumlah telurnya.

Biaya Pakan Lebih ditekan.

Yang lebih melegakan, biaya pakan pada komposisi ini turun lagi ke Rp 4200/Kg.   Atau lebih rendah Rp 1200 dari pakan pabrik.  Angka ini cukup membuat lebih berlega hati, karena dengan angka ini, biaya produksi per telur menjadi di bawah Rp 100,- dan jika ditambah obat-obatan menjadi Rp 120,- per telur.  Selisih biaya produksi langsung dengan harga jual telur Rp 210,- menjadi Rp 90 per butir.

Alhamdulillah, di balik musibah jumlah telur jatuh bebas, ada hikmah untuk melakukan uji terhadap pakan yang lebih mudah diperoleh di lingkungan sekitar dengan harga yang juga tidak mencekik leher…….

.

This entry was published on June 21, 2013 at 5:33 pm. It’s filed under Puyuh and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

4 thoughts on “Ketika Keproduktifan Puyuh Bertelur Jatuh Bebas !

  1. maaf sebelumnya mas bro, saya baru memulai berternak puyuh 3 bulan yang lalu,jadi gak seberapa ngerti soal puyuh,saat ini saya memakai pakan pabrik, untuk produksi telur nya keluar 90%,berhubung harganya yg mahal ,saya jadi kepingin ngoplos sendiri, yg jadi pertanyaan, strees nggak setelah pakan nya di ganti?

    • Yang terutama harus dijaga, nilai protein pada pakan harus memenuhi standar. Ngoplos sendiri mungkin, tapi resiko penurunan produksi, penambahan vitamin atau perangsang telur harus diperhatikan. Ada resikonya. Tapi menguji sendiri satu atau dua kandang untuk oplosan, lalu lihat akibatnya terhadap hasil produksi dan mutu produksi dapat dilakukan. Jika hasilnya baik, bisa diteruskan. Jika tidak, segera hentikan. Perubahan pakan biasanya menganggu pada hari ketiga produksi. Jadi, ada membutuhkan penyesuaian dengan pakan yang baru, komposisi yang baru. Pada periode ini, produktivitas, kotorannya, dan lain-lain perlu perhatian seksama. Tambahkan oplosan dalam kadar yang minimum dahulu, sehingga pola pencernaan puyuh bisa beradaptasi dengan baik.

      • Mas cara dapatnya tepung kepala pindang sama kulit telur gilingnya dmn?

      • Pindang mudah di dapat di pasar-pasar tradisional yang menjual pindang. Sisa kepala atau sisiran dari pindang kerap terbuang. Kulit telur bisa didapat dari industri yang membutuhkan telor, misal pedagang martabak, restoran, atau pembuat bolu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: