Puyuh dan Kefir

Cara Menetaskan Telur Puyuh

Kondisi Telur.

  • Ukuran telur relatif normal.  Tidak terlalu besar atau terlalu kecil.
  • Usia telur tidak lebih dari 7 hari.
  • Bentuk telur oval, tidak memanjang – lonjong.  Umumnya telur memanjang lonjong tidak akan menetas.
  • Warna telur tidak pucat dan tidak ada retakan.  Umumnya, pilih warna telur yang ada warna putihnya.  Warna coklat  polos, coklat tua dengan pulau-pulau warna tidak dianjurkan (berdasarkan pengalaman, sedikit yang menetas).  Demikian juga yang putih polos, sulit untuk menetas.

Temperatur dan Kelembaban.

  • Suhu antara 38o – 39 o C.  Referensi lain, menyatakan temperatur terbaik 38,7o C.
  • Kelembaban 65-70% pada mesin penetas.  Referensi lain 45-50%.  Saya belum tahu persis mana yang lebih tepat.  Namun, selama ini ditambahkan nampan berisi air yang diletakan di bawah mesin penetasan tanpa kipas sudah cukup.

Penyimpanan Pada Mesin Tetas.

  1. Letakan telur dengan ujung yang kecil (lancip) di bagian bawah.
  2. Tiga (3)  hari pertama, biarkan telur pada tempat penetasan (egg tray) tanpa digoncang atau digoyang.  Temperatur, sesuai dengan temperatur yang dikehendaki (38o – 39 o C.  )
  3. Mulai hari ke empat, sebaiknya telur digoyang posisinya dari miring ke kiri menjadi miring ke kanan, perubahan posisi ini sekitar 60 o. Hal ini berguna untuk mencegah terjadinya penempelan sel telur pada kulit telur.
  4. Setiap hari  disarankan, matikan temperatur pemanas atau lampu pemanas sedikitnya 15 menit.  Hal ini berguna untuk memberikan kesempatan bagi telur utuk “mengatur diri”.  Di alam bebas, telur yang dierami induknya, untuk beberapa saat induk keluar untuk mencari makan/minum.  Saat itu, telur akan menjadi dingin untuk beberapa saat.  Anjuran ini dapat dilaksanakan atau tidak.  Pengalaman, tidak dilakukan pun, telur tetap menetas.
  5. Hari ke 5, ambil sampel 2 sampai 5 butir telur, periksa melalui teropong berlampu untuk melihat, adakah embrio tumbuh.  Jika ragu, kerap lebih mudah dipecahkan saja dan dilihat, apakah ada titik galur merah pada telur atau tidak.  Jika ada, itu pertanda proses penetasan sedang berlangsung.  Hari ke 10, bisa dicek lagi dengan cara yang sama.  Namun, itu hanya untuk memastikan saja.
  6. Lakukan hal point 5 sampai hari ke 15.  Puyuh Cortunix Japonica menetas pada usia telur 16 – 18 hari.  Puyuh Bob White menetas pada usia 23-24 hari.

Untuk telur Puyuh Cortunix Japonica, pada hari ke 15 pindahkan telur ke wadah untuk penetasan agar sewaktu menetas tidak jatuh dari tempat penetasan  (lihat gambar)

Mesin Tetas

Tempat penetasan adalah kotak ram kawat di bagian bawah dari gambar di samping ini.

Pemindahan ke tempat penetasan dilakukan pada hari ke 15 atau  ke 16 menjelang telur menetas.

Saat Menetas.

  • Sehari sebelum menetas, biasanya sudah ada tanda-tanda keretakan telur.
  • Satu atau dua jam sebelum menetas, jika didengarkan akan ada suara-suara mencicit dari dalam telur.
  • Saat menetas, biarkan anak puyuh keluar dari kulit telur dengan kekuatannya sendiri.  Tidak perlu dibantu dengan alasan apapun.  Setiap bantuan saat keluar dari kulit telur yang membungkusnya, akan menghambat perkembangan anak puyuh di masa depannya.  Jika memang tidak berhasil keluar dari kulit telurnya adalah konsekuensi logis dari seleksi alam.

Pemindahan ke Inkubator Pemeliharaan.

  • Pindahkan ke inkubator pemanas untuk pemeliharaan DOQ (Day Old Quail) atau Box Breeding (kandang perbesaran) hanya setelah anak puyuh yang baru keluar dari telur bulu-bulunya telah benar-benar kering.  Umumnya butuh waktu satu hari.  Jadi, biarkan berada dalam mesin tetas pada hari pertama.   Beberapa referensi menyarankan dua hari.  Pengalaman, ada di antara keduanya.
  • Penetasan hari pertama, umumnya 70% dari yang menetas.  Pindahkan setelah satu hari di mesin tetas ke inkubator.
  • Perlu diperhatikan cara pemindahannya.  Hindari terkena angin dingin atau angin dari luar pada anak puyuh.  Sebaiknya, masukkan baskom kecil ke dalam mesin tetas, biar baskom menjadi hangat sehangat udara di mesin tetas.  Lalu, masukkan DOQ yang akan dipindahkan ke inkubator berikut baskomnya, baru dikeluarkan DOQ-nya.  Tentu saja, temperatur pada inkubator sudah harus disesuaikan.   Temperatur pada inkubator adalah kurang dari 4-5 derajat dari temperatur pada mesin tetas.  Pemindahan dengan mengemggam anak puyuh dan dipindahkan ke inkubator dapat menyebabkan angin dingin menyerang ke DOQ.  Ini akan menyebabkan DOQ tidak sehat.  Apalagi jika cuaca tidak bersahabat.
  • Hari pertama diinkubator, berikan minum air gula/manis pada tempat air.  Sebaiknya tempat air ketinggiannya cukup setengah centimeter saja.  Jika lebih, letakan batu/kerikil di tempat minum agar  DOQ tidak basah atau mati di dalam tempat minum.
  • Jika DQO menjauhi pusat pemanas dan menempel di dinding kandang, artinya terlalu panas.  Jika saling berdekatan dan bertumpuk, artinya terlalu dingin.  Atur pemanas sedemikian rupa sehingga sebaran DOQ relatif merata.

Sisa dari telur yang tidak menetas, adalah telur yang gagal menetas.  Penetasan yang baik mencapai 80-90% dari telur yang ditetaskan.

This entry was published on June 18, 2013 at 2:25 pm. It’s filed under Puyuh and tagged , . Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

2 thoughts on “Cara Menetaskan Telur Puyuh

  1. Ardiyanto on said:

    Bagai mana cara menyusun telor dlm mesin penetas

  2. kartino asal lampung on said:

    Berapa kali dalam 1 hari telur puyuh goyang dlm mesin tetas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: