Puyuh dan Kefir

Apa Yang Mempengaruhi Warna Telur Puyuh?

Kerabang telur puyuh berbeda dengan umumnya telur unggas lain.  Telur puyuh memiliki varian warna yang cukup banyak.  Bisa putih, putih kebiruan, coklat terang, coklat gelap, abu-abu dengan bintik-bintik hitam, putih dengan bercak-bercak coklat atau kehitaman dengan varian bercak yang tidak jelas polanya. Pigmen kerabang telur berupa ooporphyrin dan biliverdin. Deposisi pigmen terjadi dua atau tiga jam sebelum oviposisi yang kemudian diikuti dengan penurunan ooporphyrin  dalam jaringan kelenjar kerabang. Pigmen tersebut lah yang menjadikan warna cangkang telur burung puyuh menjadi unik.

Kamuflase Telur Puyuh.

Suatu penelitian yang dilakukan memperoleh kesimpulan bahwa pewarnaan pada telur puyuh ada hubungannya dengan usaha alamiah puyuh untuk mengkamuflase telurnya agar tidak mudah diserang predator.  Karenanya, pewarnaan pada telur adalah usaha alamiah dari puyuh untuk melindungi telurnya.  Puyuh “mengatur” warna telurnya di tempat ia akan meletakkan telurnya di tempat terbaik dengan pewarnaan terbaik agar tidak mudah dicuri atau diambil oleh predator lainnya.

Ilmuwan peneliti puyuh berpikir bahwa pewarnaan juga berpengaruh dalam pengaturan suhu.

Telur Puyuh Yang Baik Untuk Ditetaskan.

Rekomendasi umum yang diberikan adalah :  Telur berwarna putih dengan bercak-bercak hitam, ukuran relatif normal (tidak terlalu besar atau tidak terlalu kecil), berat rata-rata 10-11 gram, kulitnya halus, tebal kerabang tidak terlalu keras dan juga tidak terlalu tipis.  Seperti yang disampaikan pada artikel, cara menetaskan telur puyuh yang baik.

Namun, mengapa hanya warna putih.  Bagaimana dengan warna telur yang coklat tua, coklat muda terang atau gelap, atau warna putih polos, atau warna lainnya.  Bukankah sama-sama telur puyuh dan juga sama-sama fertil (terbuahi) juga.  Pengalaman selama ini, memang telur puyuh yang coklat lebih sedikit yang menetas dibanding warna putih dengan bercak-bercak hitam.

Kalau warna coklat itu adalah proses alamiah dari usaha kamuflase puyuh dalam bertelur mengapa saran untuk telur warna putih saja yang ditetaskan?.

Penelitian karena kelalaian : Puyuh tidak mendapatkan minum.

Aduh….. !.  Ketika pulang dari kegiatan dan akan memberikan pakan, saya dapati 15 kandang yang berisi 30-40 ekor puyuh dewasa dan yang sudah bertelur dalam posisi tempat minum kosong, alias tidak ada air sama sekali.  Yang biasa terisi 20-25 butir setiap hari, jatuh ke hanya dua butir atau nol.  Tidak bertelur, nyaris sama sekali tidak bertelur.  Entah berapa lama tidak ada konsumsi air untuk puyuh-puyuh tersayang ini.  Saya duga lebih dari 12 jam.  Pada saat yang sama, puyuh-puyuh itu juga makannya sedikit sekali.  Tentu karena tidak ada air yang  seharusnya diperiksa setiap 2-3 jam sekali.

Untung tidak ada yang mati kehausan, tapi demo puyuh dilakukan secara langsung.  Puyuh  menyatakan  mogok bertelur.  Semetinya dari 300 betina di dalam kandang, mengirimkan ke pemiliknya sekitar 250 butir.  Mulai hari kelalaian itu, hanya mengirimkan 4 butir saja.  Esoknya sekitar 10 butir dengan 4 butir kerabang tipis, esoknya lagi hanya sekitar 15 butir saja.  Hari ke empat mencapai 30 butir, dan hari ke lima, puyuh sudah mulai paham bahwa “tuannya” sudah lebih insaf atas kesalahannya dan mengirimkan 170 butir.  Masih di bawah harapan, namun tanda-tanda membaik sudah ada.  Yang jelas, akibat dari kehausan itu, sedikitnya 4-5 hari diperlukan untuk pemulihan.

Warna telur coklat.

Pada hari ke dua dan ketiga, dari 10 dan 15 butir telur yang dihasilkan, hanya dua dari 10 butir yang berwarna putih, dan dari 15 butir, hanya 4 butir yang berwarna putih dengan bercak hitam.  Kerabang telur, 80% tipis.  Ada satu kandang yang menghasilkan 4 butir telur dan semuanya berwarna coklat dengan bintik-bintik hitam dan bercak hitam.  Kerabangnya tipis dan semuanya pada ukuran di bawah standar, alias relatif 80% dari ukuran normal.

Kesimpulan dari kejadian ini adalah, kemunculan warna coklat (coklatnya tidak mengkilap atau coklat terang), tetapi coklat “biasa” saja.   Namun, saya menduga  bahwa warna coklat tersebut disebabkan oleh akibat kekurangan air.

Dari kejadian ini, saya menarik kesimpulan bahwa warna coklat yang muncul itu ada hubungannya dengan derajat kesehatan dari puyuh tersebut.  Bisa jadi teori kamuflase dari telur itu memang ada, tetapi juga pengalaman ini menjelaskan bahwa telur coklat relatif gelap dan kerabang  tipis disebabkan oleh kurangnya konsumsi air.

Setidaknya, kejadian ini mencirikan bahwa telur tetas yang dipilih sebaiknya yang berwarna putih saja, bukan yang berwarna coklat.

 

About these ads
This entry was published on July 15, 2013 at 5:30 pm. It’s filed under Puyuh and tagged , , , . Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 459 other followers

%d bloggers like this: